29 Januari, 2013

Tulisan di dinding

Pada suatu hari Raja Belsyazar mengundang seribu orang pembesar
untuk menghadiri pestanya yang mewah, dan minum-minum anggur.
Sementara mereka sedang minum-minum,
Belsyazar memerintahkan untuk mengambil mangkuk-mangkuk emas dan perak,
yang telah dirampas oleh Nebukadnezar, ayahnya,
dari dalam Rumah TUHAN di Yerusalem.
Maksud Raja Belsyazar ialah supaya para pembesar, istri-istrinya,
selir-selirnya dan ia sendiri, minum dari mangkuk-mangkuk itu.

Segera dibawalah mangkuk-mangkuk itu kepadanya,
lalu mereka semua minum anggur dari alat-alat minum itu.
Sambil minum mereka memuji-muji dewa-dewa yang terbuat dari
emas, perak, tembaga, kayu dan batu.

Tiba-tiba tampaklah tangan manusia
yang menuliskan sesuatu pada dinding istana
di tempat yang paling terang kena sinar lampu,
sehingga raja dapat melihatnya dengan jelas.
Ia menjadi pucat pasi dan begitu ketakutan sehingga lututnya gemetaran.
Dengan berteriak ia meminta supaya para ahli nujum,
ahli jampi dan ahli perbintangan dipanggil.
Ketika mereka datang, raja berkata,
"Barangsiapa dapat membaca tulisan itu
dan memberitahukan artinya kepadaku,
akan kuberi pakaian kerajaan berupa jubah ungu
dan kalung emas tanda kehormatan.
Selain itu ia akan kuangkat menjadi penguasa ketiga dalam kerajaanku."

Para cerdik pandai melangkah maju,
tapi tak seorang pun dari mereka dapat membaca tulisan itu
atau memberitahukan artinya kepada raja.
Raja Belsyazar menjadi lebih cemas dan pucat lagi;
juga para pembesarnya sangat kebingungan.
Mendengar teriakan-teriakan raja dan para pembesarnya,
ibunda raja masuk ke dalam ruang pesta.
Lalu ia berkata, "Hiduplah Tuanku selama-lamanya!
Tenangkanlah hati Tuanku dan jangan menjadi pucat.

Sebab dalam kerajaan Tuanku
ada seorang laki-laki yang dipenuhi oleh roh dewa-dewa yang suci.
Pada masa pemerintahan ayah Tuanku,
orang itu terbukti mempunyai kecerdasan, pengertian dan hikmat,
yang seperti hikmat para dewa.
Ayah Tuanku Raja Nebukadnezar telah mengangkat dia menjadi pemimpin
para ahli tenung, ahli jampi, orang-orang berilmu dan ahli perbintangan.

Ia luar biasa pandai dan bijaksana serta ahli
dalam menerangkan mimpi, mengungkapkan rahasia
dan memecahkan soal-soal yang sulit.
Namanya Daniel, tetapi raja menamakannya Beltsazar.
Panggillah dia. Ia akan memberitahukan kepada Tuanku apa artinya tulisan ini."

Dengan segera Daniel dibawa menghadap raja.
Lalu bertanyalah raja kepadanya,
"Engkaukah Daniel, orang Yahudi buangan,
yang telah diangkut oleh ayahku dari tanah Yehuda?
Kudengar bahwa engkau dipenuhi oleh roh-roh dewa yang suci,
dan bahwa engkau mempunyai kecerdasan, pengertian, dan hikmat yang luar biasa.

Para cerdik pandai dan ahli-ahli jampi
telah mencoba membaca tulisan ini dan memberitahukan artinya kepadaku.
Tetapi mereka tidak bisa.
Baru saja kudengar bahwa engkau dapat menyingkapkan
segala rahasia dan memecahkan soal-soal yang sulit.
Jika engkau dapat membaca tulisan ini
dan memberitahukan artinya kepadaku,
engkau akan kuberi pakaian kerajaan berupa jubah ungu
dan kalung emas tanda kehormatan.
Selain itu engkau akan kuangkat menjadi penguasa ketiga dalam kerajaanku."

Daniel menjawab, "Tuanku tak perlu memberi hadiah-hadiah itu kepadaku,
berikan sajalah kepada orang lain.
Aku akan membaca tulisan itu untuk Tuanku dan memberitahukan artinya.
Allah Yang Mahatinggi membuat Nebukadnezar,
ayah Tuanku menjadi raja agung dan memberikannya kebesaran dan kemasyhuran.

Ia begitu besar, sehingga orang-orang dari segala bangsa,
suku bangsa, dan bahasa, gentar dan takut kepadanya.
Jika ia ingin membunuh orang, dibunuhnya saja orang itu.
Jika ia mau menyelamatkan seseorang,
diselamatkannya orang itu.
Ia meninggikan atau merendahkan siapa saja menurut kehendaknya.

Tetapi ketika ia menjadi sombong, keras kepala dan kejam,
ia digulingkan dari takhta kerajaannya sehingga ia kehilangan keagungannya.
Ia diusir dari masyarakat manusia
dan akalnya menjadi seperti akal binatang.
Ia hidup dengan keledai hutan, makan rumput seperti sapi
dan tidur di lapangan terbuka sehingga dibasahi embun.
Akhirnya ia mengakui bahwa Allah Yang Mahatinggi
berkuasa atas kerajaan manusia dan kerajaan itu diberikan-Nya
kepada siapa saja yang dipilih-Nya.

Tetapi putranya, yaitu Tuanku sendiri,
tidak mau merendahkan diri, meskipun Tuanku tahu semuanya itu.
Tuanku meninggikan diri terhadap TUHAN di surga
dan berani menyuruh membawa masuk mangkuk-mangkuk
yang telah dirampas dari Rumah TUHAN.
Lalu Tuanku serta para pembesar, para istri
dan para selir Tuanku minum dari mangkuk-mangkuk itu.
Tuanku memuji-muji dewa-dewa yang terbuat dari
emas, perak, tembaga, besi, kayu dan batu,
dewa-dewa yang tidak dapat melihat atau mendengar atau mengerti apa-apa.
Tuanku tidak menghormati Allah yang menentukan hidup dan mati Tuanku
dan menetapkan jalan hidup Tuanku.

Itulah sebabnya Allah mengirim tangan itu untuk menuliskan pesan-Nya.
Inilah tulisan itu, 'Dihitung, dihitung, ditimbang, dibagi.'
Dan inilah artinya: Dihitung, masa pemerintahan Tuanku
telah dihitung oleh Allah dan diakhirinya;
ditimbang, Tuanku telah ditimbang dan didapati tidak memuaskan;
dibagi; kerajaan Tuanku dibagi
dan diberikan kepada orang Media dan Persia."

Dengan segera Belsyazar memerintahkan pegawai-pegawainya
supaya memakaikan kepada Daniel jubah ungu
dan mengalungkan kalung emas pada lehernya.
Lalu ia mengangkat Daniel menjadi penguasa ketiga dalam kerajaannya.
Pada malam itu juga terbunuhlah Belsyazar raja Babel itu.
Sesudah Belsyazar terbunuh,
Darius orang Media merebut takhta kerajaan.
Pada waktu itu ia berumur enam puluh dua tahun.

Tidak ada komentar: